Mensos Salurkan Bantuan Non Tunai PKH di Depok

Menteri Sosial saat memberikan bantuan non tunai di Balai Kota Depok. (Foto: San)

DEPOK – Kementerian Sosial menyalurkan dana bantuan sosial non tunai Program Keluarga Harapan (PKH) kepada 11.932 keluarga penerima dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) kepada 36.993 keluarga penerima bantuan asal Kota Depok di┬áBalai Kota Depok, Sabtu (18/11/2017).

Kepada wartawan, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan pihaknya bersama himpunan bank negara akan memaksimalkan agar pada bulan November ini seluruh bantuan non tunai ini bisa tuntas.

“Dengan demikian, Desember kita sudah akan mendistribusikan KKS (Kartu Keluarga Sejahtera – red) untuk 4 juta KPM (Keluarga Penerima Manfaat) baru,” jelasnya.

Lebih lanjut, Khofifah mengatakan bahwa jumlah KPM yang ada di Kota Depok saat ini yang terdata ada sekitar 11.900 KPM. Sementara data tersebut akan bertambah sekitar 3.800 KPM baru.

“Jadi kalau ada penambahan KPM di Depok, tidak berarti kemiskinan di Depok bertambah. Tetapi memang secara nasional ada penambahan 4 juta KPM baru. Saya berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Depok akan memaksimalkan pengawalan pencairan PKH maupun BPNT supaya November ini tuntas,” ujar Khofifah.

Menteri Sosial menyalami warga Depok penerima bantuan non tunai. (Foto: San)

Pada kesempatan tersebut, Khofifah juga mengatakan bahwa Kementerian Sosial siap memberikan layanan dukungan psikososial (LDP) bagi korban penyanderaan yang dilakukan kelompok bersenjata di Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua.

“Kami sudah mengirimkan tim layanan dukungan psikososial ke Mimika. Saat ini sedang melakukan koordinasi dengan dinas sosial Mimika dan instansi terkait untuk melakukan asessment kepada korban yang telah berhasil dibebaskan,” ungkap Khofifah

Khofifah mengatakan, layanan dukungan psikososial yang diberikan berupa terapi psikososial, pelayanan konseling, dan psikoedukasi kepada korban yang mengalami trauma. Pendampingan psikososial tersebut diberikan terutama kepada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, difabel, dan ibu hamil.

“Masing-masing membutuhkan cara penanganan yang berbeda, sesuai hasil asessment,” pungkasnya. (san)